Archive

Archive for the ‘Menulis ilmiah populer’ Category

Membuat kerangka tulisan ilmiah populer adalah wajib!

July 13, 2011 7 comments

Adakalanya, kita kesulitan untuk mengembangkan sebuah gagasan tulisan. Entah karena kehabisan amunisi, malas, atau sekian banyak alasan lain. Sayapun kerap menjumpai hambatan ini. Jika sudah demikian, maka kita hanya bisa kesal, kemudian tidak berkeinginan lagi untuk meneruskan menulis. Sayang kan? Sebenarnya, ada sebuah upaya untuk mencegah, atau setidaknya mengurangi masalah tersebut, yaitu dengan cara membuat kerangka tulisan.

Kerangka, seperti namanya, adalah sebuah bentukan belum sempurna sebuah benda yang akan berproses menjadi lebih sempurna setelah ditambah dan dipoles sedemikian rupa. Sebuah kerangka tulisan tidak bisa menjelaskan secara gamblang keseluruhan tulisan, namun dapat digunakan sebagai pemandu bagi si penulis untuk selalu menuliskan semua hal yang masih tercakup di dalam kerangka tersebut. Dengan demikian, si penulis akan dapat selalu mengontrol tulisan dan alur cerita sesuai dengan ide semula.

Membuat kerangka tulisan tidaklah sulit, meskipun juga bukan sebuah hal mudah. Pada intinya, kerangka tulisan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Pengantar/ pendahuluan
  2. Isi tulisan
  3. Pembahasan dan kesimpulan

Apakah kita mesti menggunakan tiga bagian tersebut untuk membuat sebuah kerangka tulisan? Secara umum, ya! Bagaimana kita menuliskan sebuah isi tanpa didahului dengan sebuah pengantar.

Fungsi pengantar adalah memberikan penjelasan tentang sebuah masalah (sesuai ide awal penulisan). Bagian ini biasanya dianggap sebagai bagian tulisan yang paling sulit ditulis, karena bagian inilah yang menentukan menarik tidaknya artikel yang kita tulis. Para penulis pemula biasanya kebingungan untuk menuliskan sebuah pengantar yang mengawali tulisannya. Namun, jangan kuatir, ada setidaknya empat jenis pengantar (menurut situs Freelance Writing), yaitu

  1. Kutipan. Gunakan kutipan yang mencakup tema dari artikel yang ditulis.
  2. Anekdot. Paparan tulisan yang menjelaskan sebuah cerita yang pas dengan cerita artikel.
  3. Ringkasan. Pengantar juga dapat diawali dengan menerangkan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana subjek cerita di artikel.
  4. Pernyataan kejutan. Pembaca dapat dipikat dengan menuliskan kalimat yang agak aneh atau tidak umum.
Penggunaan kutipan cukup banyak dilakukan orang untuk membuka sebuah tulisan. Misalnya,
Melihat ukuran serangga yang relatif kecil menumbuhkan keraguan akan kemampuan mereka bertahan terhadap berbagai hambatan dan gangguan dari faktor abiotik dan biotik.  Jika Anda menepuk mati seekor nyamuk, Anda tentu akan berpikir, bahwa mereka mudah sekali mati.
(Lihat kutipan tersebut di sini).
Kutipan tersebut menggiring pembaca untuk berpikir dan kemudian membenarkan pernyataan tersebut, sehingga mereka kemudian mencoba untuk mengikuti tulisan kita karena ingin mencari pendapat kita tentang pernyataan tersebut.
Menuliskan ringkasan untuk mengawali tulisan juga sering saya lakukan. Salah satunya sebagai berikut.
“Menurut ensiklopedia Encarta (2005), mimikri didefinisikan sebagai “pemiripan” atau “peniruan” secara fisik atau perilaku oleh satu spesies terhadap spesies yang lain yang menguntungkan dirinya, atau secara tidak langsung juga keduanya. Organisme yang “meniru” disebut mimik, sedangkan organisme yang “ditiru” disebut model. Di alam ini, cukup banyak jenis organisme, baik tumbuhan maupun hewan yang melakukan mimikri untuk tujuan pertahanan maupun mendapatkan pakan. Serangga adalah salah satu jenis hewan yang melakukan mimikri, dan pada banyak kasus terbukti efektif menurunkan kematian akibat pemangsaan oleh musuh alami.”
(Lihat artikel selengkapnya di sini).
Penjelasan singkat tersebut biasanya akan segera membuat pembaca merasa “ngeh” pada tulisan yang kita buat. Selanjutnya, mereka akan mengikuti paparan kita bagian demi bagian.

Bagian isi tulisan mengandung penjabaran lebih lanjut dari hal-hal yang sudah dituliskan pada pengantar, disertai dengan penjelasan dari penulis-penulis terdahulu (referensi pustaka). Pada bagian ini, kita bisa menjelaskan pula sebuah metode yang digunakan untuk “menguliti” hal-hal atau pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan di bagian pengantar, sekaligus juga beberapa hasil yang kita peroleh.

Pembahasan berisi argumen kita untuk menjelaskan hal-hal yang sudah “dipermasalahkan”  di pengantar dan dibahas oleh penulis lain di isi tulisan. Dalam bagian ini, kita dapat memberikan pandangan-pandangan atau ide-ide kita berdasarkan pada hasil-hasil yang sudah kita peroleh, ditambah dengan bahasan oleh penulis sebelumnya. Dalam hal ini, keluasan wawasan keilmuan kita diuji. Jika kita banyak membaca, sehingga wawasan ilmu kita cukup mumpuni, maka biasanya menuliskan pembahasan bukanlah hal yang cukup sulit.

Kesimpulan digunakan untuk menjelaskan secara singkat rajutan pemikiran di pengantar (pertanyaan atau ide awal), metodologi menjawab pertanyaan (di bagian isi), dan bahasan-bahasan atas hasil yang diperoleh. Kesimpulan tidak perlu panjang lebar, namun singkat, padat, dan jelas!

Kira-kira itu dulu deh! Jika masih belum jelas, silakan ikuti tulisan-tulisan di blog Majalah SERANGGA online. Semoga bermanfaat.

Salam menulis,

Nugroho S. Putra

Pilihan saya adalah menulis buku!

July 9, 2011 6 comments

Judul di atas sepertinya provokatif ya? Tulisan ini saya buat setelah saya tiba-tiba teringat dengan komentar beberapa teman, ketika saya memaparkan niat saya untuk menulis buku pada mereka. Mereka mempertanyakan niat saya yang menurut mereka terlalu idealis, tidak realistis (menulis buku lebih sulit, membutuhkan lebih banyak waktu, dan sulit promosinya), dan tidak populer. Hmmm, benarkah?

Menulis buku sebagai sebuah wujud pencapaian

Bagi saya, keinginan menulis buku sebenarnya adalah sebuah niat yang wajar, sewajar mereka yang menyatakan ingin menulis  di media massa. Bagi sebagian orang, menulis buku adalah sebuah cita-cita, bahkan sebagian yang lain berani menyatakan bahwa menulis buku adalah sebuah pilihan (profesi)! Wow! Nah, bagi saya, menulis buku ilmiah populer adalah sebuah cita-cita yang ingin saya wujudkan. Bukankah orang-orang zaman dahulu begitu rajin mencatatkan buah-buah pemikiran ke dalam sebuah kitab (buku) yang selanjutnya dapat digunakan sebagai rujukan bagi penerusnya? Artinya, ilmu kita akan jauh lebih mudah diketahui, dipelajari, dipahami, dan kemudian dikembangkan oleh generasi penerus kita, ketika tertuliskan dalam sebuah buku.

Sumber gambar: http://www.sepoci.com

Menulis buku ilmiah populer bukan proses yang mudah

Pendapat mereka bahwa menulis buku ilmiah populer tidak mudah adalah benar belaka, setidaknya jika kita benar-benar ingin menuangkan gagasan ilmiah dalam kerangka bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam, bukan sekadar menulis buku untuk mencari uang (idealis nih ceritanya…^-^). Bagi saya, menulis sebuah buku ilmiah populer adalah proses membaca, belajar berulang kali, dan kemudian menuliskannya dalam sebuah format kebahasaan yang dibuat seluwes dan semudah mungkin agar dapat dinikmati oleh orang lain di luar bidang keahlian saya. Tentu saja, saya harus menuliskan fakta-fakta dan opini-opini secara berimbang, bukan sebaliknya, penuh dengan opini yang tidak didukung oleh fakta yang mumpuni (benar dan sahih secara ilmiah). Oleh karena itu, saya tidak hanya membutuhkan pustaka-pustaka yang relevan dengan ilmu yang saya tuliskan, namun saya juga harus rajin berdiskusi dengan orang lain yang mempunyai ilmu-ilmu “khusus” yang saya butuhkan untuk memperkaya tulisan saya. Saya juga harus memahami kosakata yang kira-kira mudah dicerna oleh orang awam, bukan kosakata ilmiah yang membuat rambut keriting …ha..ha…ha.

Tapi, sekali lagi, meskipun menulis buku sulit, setidaknya tidak lantas membuat kita ciut nyali (tidak pede) untuk tidak meneruskan cita-cita kita menulis buku bukan? Ada kesulitan pastilah diikuti dengan jalan keluarnya. Itulah yang selalu saya ingat dari nasihat almarhum ayah saya (thank you dad for inspiring me with your smart  words!). Maka, saya kemudian menjadi rajin “berburu” pustaka-pustaka dari manapun. Jujur, saya menjadi amat rakus untuk soal yang satu ini! Bayangkan ketika Anda mendapatkan jawaban atas sebuah pertanyaan, maka Anda akan terpacu untuk ingin mengetahui lebih jauh permasalahan tersebut. Cobalah!

Menulis buku ilmiah populer adalah sebuah proses belajar dan memahami

Selama saya menikmati proses menulis, hanya sebuah keasyikan yang saya dapat! Ketika saya menulis, kemudian mengirimkan ke forum, kemudian mendapatkan saran, kritik, bahkan argumen dari teman-teman, maka saya merasa terkayakan dengan proses tersebut. Tak sedikit teman-teman yang kemudian secara tidak langsung menjadi mentor saya dalam hal pemakaian gaya bahasa, penulisan kalimat yang efisien, dan menulis dengan menarik. Sebuah proses belajar dan memahami yang luar biasa nikmat dan  mencerahkan.

Di samping itu, saya mencoba untuk memahami berbagai gaya penulisan ilmiah populer dari orang-orang yang memang jago, misalnya Harun Yahya. Saking demikian dalamnya saya mempelajari gaya bahasanya, beberapa teman menyebutkan bahwa tulisan saya mirip benar dengan Harun Yahya. He…he….bingung juga saya, mau berkata apa… Saya mencoba juga memahami gaya bercerita dan menulis beberapa penulis lain, misalnya David Attenborough dan David Quammen (salah satu karya yang saya koleksi adalah buku best seller The Song of the Dodo: Island Biogeography in an Age of Extinctions, diterbitkan tahun 1996). Tentu pula tak ketinggalan gaya bahasa bertutur ilmiah populer versi almarhum Slamet Suseno yang rajin saya ikuti di majalah Intisari.

Sebuah keuntungan yang saya dapat kemudian adalah proses pencerahan yang luar biasa. Saya pikir, itupun hal yang wajar, karena kita selalu berminat untuk terus mencari, membaca, dan belajar. Bukankah siapapun yang mengusahakan ketiga hal tersebut akan mendapatkan pencerahan, termasuk tentunya Anda?

Jadi?

Dari proses belajar dan sekaligus memahami tersebut, saya kini tak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa saya ingin menulis buku! Sebuah cita-cita yang wajar menurut saya. Nah, bagaimana dengan Anda?

Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya

Salam,

Nugroho S. Putra

Keuntungan menulis ilmiah populer

July 6, 2011 2 comments

Ketika menulis buku pertama (Serangga di Sekitar Kita) pada sekitar tahun 1993, maka yang terpikir di benak saya waktu itu adalah agar buku tersebut dapat digunakan sebagai “bahan bacaan” dan sekaligus  untuk memancing “fulus”. Namun, ketika buku tersebut diterbitkan (tahun 1994 oleh PT. Kanisius), maka pikiran saya berubah: menulis ilmiah populer ternyata menguntungkan! Oya? Apa itu?

Sampul buku Serangga di Sekitar Kita (1994)

Keuntungan pertama, saya menjadi semakin memahami pentingnya “diri kita” sebagai agens “penerjemah” bahan-bahan ilmu yang saya pelajari (Entomologi= Ilmu Serangga) yang rumit, membosankan (karena penuh dengan hafalan nama dan istilah asing…^-^), sulit, dan sebutan entah apalagi, menjadi penjelasan yang lebih renyah, mudah “dikunyah” oleh otak, dan akhirnya mampu membuka pemahaman orang pada bahan yang kita sajikan. Hmmm, masih terasa hingga kini, bagaimana puasnya kita ketika ada sekian orang yang mengatakan:”Wah, terima kasih Pak bukunya. Saya jadi sedikit lebih ngeh pada serangga”. Nah!

Keuntungan kedua, nama saya mendadak menjadi terkenal ^-^. Wah, gak nyangka lho. Beberapa bulan setelah buku tersebut terbit, saya mendapatkan banyak surat yang mengkritisi buku tersebut. Ada yang menyanjung, ada yang mendebat, dan adapula yang menanyakan seluk-beluk serangga. Waktu itu (tahun 1994) belum ada media komunikasi sehebat sekarang semacam HP (belum lazim), apalagi blog dan jejaring sosial (FaceBook, Twitter, dan semacamnya). Jadi, surat adalah sarana komunikasi yang paling bisa diandalkan. Maka, terjadilah interaksi-korespondensi saya dengan para pembaca. Rasanya? Gak usah ditanya deh! Puas, senang, bangga, dan tentunya…bersyukur, karena jalur silaturahim menjadi terbuka lebar.

Dua keuntungan di atas ternyata terus berkembang hingga kini, karena hampir setiap orang yang mengenal saya kemudian mempercayai saya sebagai seorang “penulis buku ilmiah populer”. Wah, seru juga nih! Meskipun, sampai saat ini pula saya masih saja ragu, benarkah demikian? Tetapi, hal tersebut setidaknya kemudian makin melecut saya untuk lebih mengasah otak dan menajamkan tulisan untuk menghasilkan buku-buku berikutnya. Seperti halnya orang lain yang sudah “sukses” menghasilkan karya, maka perasaan sayapun sama: ingin terus menulis!

So, jika Anda berminat, silakan saja menulis!

Salam,

Nugroho S. Putra

Menulis ilmiah populer? Mengapa tidak?

July 6, 2011 2 comments

Istilah ilmiah populer (Popular science) adalah proses pengubahan atau pengalihbahasaan dari bahasa ilmu menjadi bahasa populer atau awam, agar lebih mudah dipahami oleh orang awam. Penulisan ilmiah populer dianggap penting, karena dapat berperan sebagai “jembatan” antara ilmuwan (si empunya ilmu) dan masyarakat (awam; tidak memahami ilmu si empunya ilmu secara mendalam). Jadi, jika seseorang menulis ilmiah populer, maka pada hakekatnya, orang tersebut dapat dianggap telah berperan “membumikan” ilmu yang (dianggap) sulit dan rumit, menjadi ilmu dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Di dalam dunia keilmuan, profesi penulis populer ilmiah bisa saja disandang oleh si empunya ilmu itu sendiri, atau oleh orang lain yang mempunyai profesi lain yang menunjang upaya “penerjemahan” ilmu tadi. Penulis populer ilmiah terkenal semisal David Attenborough (DA) adalah salah satu contoh pakar penyiaran (broadcaster) yang demikian memahami cara untuk mempopulerkan ilmu yang rumit (DA adalah juga seorang naturalist) menjadi sebuah tulisan atau tontonan yang menarik dan mudah dipahami. DA adalah juga producer dari beberapa seri film perikehidupan flora dan fauna yang diproduksi oleh BBC (silakan tilik biografi singkatnya di sini).

The Life of Birds (DVD) karya D. Attenborough (1998)

Oleh karena itu, profesi sebagai penulis ilmiah populer sebenarnya sangat menjanjikan dan sekaligus mengesankan. Bagaimana tidak? Seorang DA tentu sangat menikmati “pengamatan” dan “pengalaman” yang luar biasa ketika melakukan perburuan data di berbagai daerah. Di samping itu, buku-buku dan film-film yang dihasilkannyapun amat populer di kalangan penggemar film-film ilmiah (silakan lihat di situs Amazon.com untuk melacak film dan buku karya DA). Artinya, dari segi finansial, DA tentu berkecukupan. Bagaimana dengan penulis ilmiah populer di Indonesia?

The Life of Mammals (DVD) karya D. Attenborough (2002)

Kondisi masyarakat Indonesia yang masih terkastakan berdasarkan tingkat keilmuan (awam dan berpengetahuan) seharusnya menjadi salah satu alasan kuat untuk memperbanyak jumlah penulis-penulis ilmiah populer handal semacam almarhum Slamet Suseno (redaktur dan penulis ilmiah populer di majalah Intisari dan majalah pertanian Trubus). Saya juga mencatat beberapa penulis-penulis blog hebat, misalnya Romi Satrio Wahono dan Rovicky Dwi Putrohari, pemilik blog Dongeng Geologi yang juga dapat dikategorikan sebagai penulis ilmiah populer. Silakan tilik blog-blog tersebut untuk membuktikan, bagaimana nyamannya kita, orang awam, mendapatkan bahan dari ilmu-ilmu rumit namun dijelaskan dengan amat lugas, sederhana, namun jelas.

Nah, sementara saya simpulkan dahulu, bahwa jika di Indonesia bermunculan penulis-penulis ilmiah populer yang mumpuni, maka harapan para ilmuwan (yang sering kesulitan menjelaskan ilmu-ilmunya) dan sebaliknya, orang awam, untuk mendapatkan penjelasan yang mudah tentang suatu ilmu yang rumit dapat tercapai. Bagaimana, Anda berminat menjadi penulis ilmiah populer?

Blog ini sengaja saya buat untuk menuangkan gagasan-gagasan atau ide-ide yang berhubungan dengan ilmu-ilmu biologi, terutama ilmu serangga (Entomologi) yang kata orang rumit dengan bahasa yang populer agar mudah dimengerti oleh siapapun yang tidak atau belum lama menyelami ilmu-ilmu tersebut. Dan akhirnya, kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan untuk memperkaya isi blog ini. Ayo, kita saling berbagi untuk mencerahkan dan mencerdaskan.

Salam,

Nugroho S. Putra

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.