Home > Menulis ilmiah populer > Pilihan saya adalah menulis buku!

Pilihan saya adalah menulis buku!

Judul di atas sepertinya provokatif ya? Tulisan ini saya buat setelah saya tiba-tiba teringat dengan komentar beberapa teman, ketika saya memaparkan niat saya untuk menulis buku pada mereka. Mereka mempertanyakan niat saya yang menurut mereka terlalu idealis, tidak realistis (menulis buku lebih sulit, membutuhkan lebih banyak waktu, dan sulit promosinya), dan tidak populer. Hmmm, benarkah?

Menulis buku sebagai sebuah wujud pencapaian

Bagi saya, keinginan menulis buku sebenarnya adalah sebuah niat yang wajar, sewajar mereka yang menyatakan ingin menulis  di media massa. Bagi sebagian orang, menulis buku adalah sebuah cita-cita, bahkan sebagian yang lain berani menyatakan bahwa menulis buku adalah sebuah pilihan (profesi)! Wow! Nah, bagi saya, menulis buku ilmiah populer adalah sebuah cita-cita yang ingin saya wujudkan. Bukankah orang-orang zaman dahulu begitu rajin mencatatkan buah-buah pemikiran ke dalam sebuah kitab (buku) yang selanjutnya dapat digunakan sebagai rujukan bagi penerusnya? Artinya, ilmu kita akan jauh lebih mudah diketahui, dipelajari, dipahami, dan kemudian dikembangkan oleh generasi penerus kita, ketika tertuliskan dalam sebuah buku.

Sumber gambar: http://www.sepoci.com

Menulis buku ilmiah populer bukan proses yang mudah

Pendapat mereka bahwa menulis buku ilmiah populer tidak mudah adalah benar belaka, setidaknya jika kita benar-benar ingin menuangkan gagasan ilmiah dalam kerangka bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam, bukan sekadar menulis buku untuk mencari uang (idealis nih ceritanya…^-^). Bagi saya, menulis sebuah buku ilmiah populer adalah proses membaca, belajar berulang kali, dan kemudian menuliskannya dalam sebuah format kebahasaan yang dibuat seluwes dan semudah mungkin agar dapat dinikmati oleh orang lain di luar bidang keahlian saya. Tentu saja, saya harus menuliskan fakta-fakta dan opini-opini secara berimbang, bukan sebaliknya, penuh dengan opini yang tidak didukung oleh fakta yang mumpuni (benar dan sahih secara ilmiah). Oleh karena itu, saya tidak hanya membutuhkan pustaka-pustaka yang relevan dengan ilmu yang saya tuliskan, namun saya juga harus rajin berdiskusi dengan orang lain yang mempunyai ilmu-ilmu “khusus” yang saya butuhkan untuk memperkaya tulisan saya. Saya juga harus memahami kosakata yang kira-kira mudah dicerna oleh orang awam, bukan kosakata ilmiah yang membuat rambut keriting …ha..ha…ha.

Tapi, sekali lagi, meskipun menulis buku sulit, setidaknya tidak lantas membuat kita ciut nyali (tidak pede) untuk tidak meneruskan cita-cita kita menulis buku bukan? Ada kesulitan pastilah diikuti dengan jalan keluarnya. Itulah yang selalu saya ingat dari nasihat almarhum ayah saya (thank you dad for inspiring me with your smart  words!). Maka, saya kemudian menjadi rajin “berburu” pustaka-pustaka dari manapun. Jujur, saya menjadi amat rakus untuk soal yang satu ini! Bayangkan ketika Anda mendapatkan jawaban atas sebuah pertanyaan, maka Anda akan terpacu untuk ingin mengetahui lebih jauh permasalahan tersebut. Cobalah!

Menulis buku ilmiah populer adalah sebuah proses belajar dan memahami

Selama saya menikmati proses menulis, hanya sebuah keasyikan yang saya dapat! Ketika saya menulis, kemudian mengirimkan ke forum, kemudian mendapatkan saran, kritik, bahkan argumen dari teman-teman, maka saya merasa terkayakan dengan proses tersebut. Tak sedikit teman-teman yang kemudian secara tidak langsung menjadi mentor saya dalam hal pemakaian gaya bahasa, penulisan kalimat yang efisien, dan menulis dengan menarik. Sebuah proses belajar dan memahami yang luar biasa nikmat dan  mencerahkan.

Di samping itu, saya mencoba untuk memahami berbagai gaya penulisan ilmiah populer dari orang-orang yang memang jago, misalnya Harun Yahya. Saking demikian dalamnya saya mempelajari gaya bahasanya, beberapa teman menyebutkan bahwa tulisan saya mirip benar dengan Harun Yahya. He…he….bingung juga saya, mau berkata apa… Saya mencoba juga memahami gaya bercerita dan menulis beberapa penulis lain, misalnya David Attenborough dan David Quammen (salah satu karya yang saya koleksi adalah buku best seller The Song of the Dodo: Island Biogeography in an Age of Extinctions, diterbitkan tahun 1996). Tentu pula tak ketinggalan gaya bahasa bertutur ilmiah populer versi almarhum Slamet Suseno yang rajin saya ikuti di majalah Intisari.

Sebuah keuntungan yang saya dapat kemudian adalah proses pencerahan yang luar biasa. Saya pikir, itupun hal yang wajar, karena kita selalu berminat untuk terus mencari, membaca, dan belajar. Bukankah siapapun yang mengusahakan ketiga hal tersebut akan mendapatkan pencerahan, termasuk tentunya Anda?

Jadi?

Dari proses belajar dan sekaligus memahami tersebut, saya kini tak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa saya ingin menulis buku! Sebuah cita-cita yang wajar menurut saya. Nah, bagaimana dengan Anda?

Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya

Salam,

Nugroho S. Putra

  1. July 9, 2011 at 4:21 am

    wah, sepertinya menarik juga untuk menulis sebuah buku ya..jadi mulai berpikir untuk menulis buku nih…sebenarnya sih bukan menulis mungkin, tapi tepatnya membukukan foto-foto yang tidak seberapa bagus yang pernah saya buat ya hehehehe

    • nsputra
      July 9, 2011 at 6:11 am

      Itu bisa juga jadi buku mas. Bukankah orang yang mengabadikan gambar serangga dengan kamera HP cukup langka? Nah, sampeyan tulis juga kiat2 memotret dengan HP, ditambah dengan foto-foto hasilnya. Luar biasa dah…menarik untuk dicoba mas.

  2. anis
    December 12, 2012 at 8:14 pm

    mau tnya nih pak,misalnya:
    sy lulusan S1 pndidikn matematika yg ingin mnulis buku ttg “tips kreatif mngajar matematika” (bacaan untuk guru), sementara sy sndiri tidak brkcimpung di dunia mngajar (tdk bkrja sbg guru,hnya ibu rmh tngga). Pertnyaannya:
    1.apakh sy boleh menulis buku sprti itu (yg nyatanya sy tdk terjun d lpngan)?
    2.apakh buku yg sy mksd trmsuk buku ilmiah populer?atau trmsk jenis buku apa?
    Mksh..

    • nsputra
      December 13, 2012 at 3:30 am

      Ibu Yth.

      Jawaban saya adalah, sangat boleh. Apalagi jika Ibu sudah membaca banyak referensi, kemudian menyimpulkannya, dan ditambah dengan ide-ide yang menurut Ibu sangat baik untuk disampaikan ke orang lain. Usul saya, silakan ditulis saja Bu. Menurut saya, dalam kondisi yang carut marut demikian, buku-buku seperti yang Ibu pikirkan ini sangat penting. Ibu tidak perlu terjun langsung untuk menulis sebuah buku pendidikan, karena paling tidak, Ibu mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai. Buku yang Ibu tulis saya sarankan untuk ditulis dalam bentuk ilmiah populer, dan tulislah dengan bahasa yang menggugah minat pembaca untuk mengikuti hal yang Ibu pikirkan. Saya bersedia membantu penulisan buku Ibu, jika Ibu membutuhkan. Selamat Bu atas keinginan menulis buku. Tidak banyak orang yang benar-benar punya ghirah setinggi Ibu. Have a nice writing..!!

      http://ilmuserangga.wordpress.com
      http://majalahserangga.wordpress.com

  3. anisamarni
    May 8, 2014 at 12:59 am

    salam, boleh saya dptkan contoh manuskrip untk buku ilmiah dan banyak menggunakan ilustrasi…tqvm 4 info

    • nsputra
      May 10, 2014 at 12:29 am

      Kebetulan saya punya beberapa buku dalam bentuk PDF. Saya kirimkan ke email ya. Terima kasih kunjungannya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: